Cerita Angkot pt. 5: The Prayer

Cerita ini sebetulnya sudah lama terjadi, sekitar tahun 2011 lalu di saat saya pertama kali magang di salah satu stasiun radio di bilangan Kuningan. Tapi ya namanya juga baru ingat.. jadi nggak apa-apa kan ya? :)

Jadi cerita itu pagi-pagi sekali saya sudah rapi. Itu hari pertama saya wawancara di kantor sungguhan, dan tentu saja saya gugup luar biasa. Jadi berangkatlah saya kepagian dengan baju yang terbilang keterlaluan rapinya untuk industri hiburan, lengkap dengan map yang berisi CV serta surat keterangan dari kampus.

Pukul tujuh kurang saya sudah duduk manis di angkot, kursi paling depan. Sengaja, untuk menghindari kalau-kalau pakaian saya terkena tumpahan minuman atau muntahan bayi dari orang sekitar saya. Anti sosial? Ya namanya juga untuk keadaan yang menurut saya spesial pada waktu itu.

Bicara tentang angkutan kota di Jakarta, berarti sepaket dengan kemacetan dan hawa panas. Ini terang saja mengganggu, karena sepanjang jalan saya jadi dihantui oleh rasa cemas takut terlambat dan juga bedak yang mungkin saja meluntur tergosok tisu bersama keringat. Duduk saya pun tak nyaman. Berkali-kali kepala saya longokkan untuk memantau sumber kemacetan.

"Ya namanya juga Jakarta, mba.." tiba-tiba abang supir angkot itu angkat bicara seperti memahami kepanikan saya. Saya berusaha tersenyum walaupun gusar setengah mati, "Iya sih, pak.. Tapi lagi mau ngelamar kerja nih. Mau wawancara, takut telat.." Ternyata ia malah antusias, "Mau ngelamar di mana, mbak?"

"Di Kuningan, Imperium." Ucapku acuh tak acuh. Berharap ia tak mengerti daerah sekitar sana. Ternyata dia semakin antusias. "Oalaaaah yang di dekat gedung Aliens (Allianz maksudnya) itu ya kan? Saya dulu opis-boi (Office Boy... Err, do I really need to re-explain this again? :p) di Aliens!"

Saya semakin malas menanggapinya. Kondisi seperti ini sangat tidak mendukung untuk beramah-tamah, "Ooo.."

Ia lalu bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya dulu, "Wuah, di situ saya belajar bahasa Inggris, mba! Kan perusahaan asing, jadi kalo ketemu bule harus ikut-ikut nyebut gut morning sama eskiusmi (Yes, what he was trying to say is "Excuse me" :p )

Puas bercerita tentang dirinya yang hanya saya tanggapi sekenanya, ia malah berbalik bertanya "Lah, mbaknya ini bajunya bagus.. Pasti mau ngelamar jadi menejer terus dapet kontrak semilyar.."

Saya cuma melongo. Waduh, pak saya kan sebenarnya masih kuliah..

"Ya kan namanya omongan itu doa, mbak.. Aminin aja.." Dia berseloroh lagi. Mau tak mau saya ikut terkekeh. Tanpa sadar angkot itu mendekati halte TransJakarta tempat saya akan naik. Sayapun bergegas turun dari angkot, diiringi dengan teriakannya, "Sukses ya, mbak! Kalo udah dapet semilyar jangan lupa sama saya!"

***
Akhirnya saya sampai di gedung tempat saya akan magang.
"Mau ke radio itu ya, mba? Saya antar saja. Mau ambil hadiah undian di radio kan?" sapa pak satpam.

"Nggak pak, mau teken kontrak semilyar." Batin saya terkekeh.

Keko: Sarah

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar: