Namanya Juga Cinta

*ada mitos yang bilang bahwa kita belum bisa disebut penulis jika belum pernah memaknai kata cinta dalam tulisan kita, so here it goes..*


Di umur saya yang baru mau menginjak kepala 2 ini, saya telah cukup merasa kenyang kalau tidak mau dibilang eneg dengan segala tulisan, apalagi lirik lagu tentang cinta. Dari yang tersirat sampai yang tersurat secara gamblang seperti ce-i-en-te-a itu. Membacanya setiap hari, mendengarkannya setiap waktu, merasakannya setiap detik.. tetapi masih merasa membutuhkan 4 SKS untuk memahami artinya yang sesungguhnya *padahal waktu saya berseragam putih abu-abu dulu, tema inilah yang lebih sering menguasai buku tulis saya*.  

Jadi begini, *ehem* definisi saya tentang cinta cukup fleksibel, kalau tidak mau dibilang labil.

Waktu SMP, definisi itu berhenti pada fenomena meronanya muka dan berdebarnya jantung ketika bertemu dia. Konyol? Memang. Tetapi ternyata itulah definisi yang sanggup saya pegang hingga beberapa saat kemudian. Definisi yang tumbuh bersama kegiatan malu-malu kucing semacam memandanginya dari jauh, menghafal makanan kesukaannya, jadwal sekolahnya.. you name it.

Lalu ternyata waktu nggak tega saya berpegang teguh pada filosofi naif seperti itu; maka ketika saya menginjak bangku SMA, dihadirkanlah saya pada pemikiran baru, yaitu: Cinta itu begadang. Cinta itu bertahan menahan kantuk demi menemaninya. Malam-malam begadang dengan mata mulai berkantung dan ponsel di tangan, cuma sekadar menemani dia sambil main tebak-tebakan konyol macam: "Bebek apa yang jalannya miring? Bebek dikunci stang kali" Skip, nggak ada hubungannya juga cinta sama bebek.

Setelah filosofi "Cinta itu begadang", saya malah dihadirkan pemikiran baru, yaitu "Cinta itu menunggu". Bukannya saya jatuh cinta sama angkot yang saya tunggu setiap pagi, tapi bagi saya cinta itu berusaha sabar dan tabah menunggu dia.. yang bersemayam di warnet. Ternyata ada yang lebih konyol dengan filosofi malu-malu kucing. Jadi ketika itu, kata suci itu saya maknai dengan menghabiskan waktu menemaninya main. Hanya supaya melihat dia ketawa. Hanya supaya melihat dia tersenyum. Yes, I was that cheesy.


Dan rupanya, Tuhan juga nggak tega untuk membiarkan saya jadi mirip monitor komputer, karena akhirnya saya diselamatkan dari pria itu yang bahkan akhirnya memilih jatuh cinta sama sahabat saya sendiri.  Sampai pada fase ini, akhirnya ikhlas menjadi padanan kata yang paling masuk akal untuk memaknai kata sakral itu.

Lalu 2 tahun akhirnya dilewati tanpa ada pemikiran baru, karena 24 bulan itu juga saya harus terus-terusan belajar ikhlas karena niatnya mau belajar cinta. Belajar jatuh cinta, lalu mau nggak mau belajar juga mengikhlaskan cinta.. Berkali-kali, sampai akhirnya bosan sendiri. Mending utak-atik kamera deh.

Hingga saat ini, hari ini, detik ini ketika saya masih menghabiskan sepiring Honeystar dengan Nutella.. saya dan keterbatasan akal saya kembali berusaha memaknai kata sakral itu.

Cinta itu tergantung bagaimana kamu memaknainya.

Keko: Sarah

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar: